Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mungkin

mungkin#7


Sibuk
10 Februari 2019

“Aku nggak sibuk, cuman memanfaatkan waktu yang nggak akan kembali”

24 jam adalah waktu kita untuk berkarya dalam sehari. Sayangnya 24 jam itu dibagi 3, untuk berkarya (belajar), istirahat dan beribadah. Katanya.

Berarti ada 8 jam untuk berkarya. Apakah cukup?

TIDAK. Kata Hasan Al Banna “Waktumu lebih sedikit daripada kewajiban yang harus kamu tunaikan”

Berkarya = Ibadah, belajar = ibadah, istirahat = ibadah. 24 jam adalah ibadah.

Maka setiap orang yang paham atas hal tersebut akan semangat untuk ibadah, akan bergairah untuk melakukan aktivitas. Karena dia tahu, semua yang dilakukannya hanya untuk ibadah.

Kalo begitu dia adalah orang yang sangat sibuk dengan ibadahnya pada sang pencipta. Dengan berbagai cara dan rupa, asalkan mendekatkan diri kepada ilahi.

Termasuk diriku yang mencoba sibuk dalam ibadah ini. Mencoba memenuhi hari dengan niat ibadah, agar setiap detiknya tidak sia-sia.

Karena sibuk Cuma dua, sibuk ibadah dan sibuk dunia. Tapi pembedanya sangat tipis yaitu niat.

Menjadi orang yang sibuk beribadah berarti menolak diri pada kesibukan dunia. Dengan pekerjaan yang sama bisa menjadi 2 hasil yang berbeda jika yang satu ibadah yang lain dunia.

Ibadahmu mau 24 jam atau nggak?

mungkin#6

Aksi Secepat Mulut Berkomentar
9 Februari 2019
Aku menemukan sebuah keanehan yang terjadi. Banyak kata, retorika, dan rima tapi minim aksi.

Kenapa itu bisa terjadi? Karena ngomong itu lebih mudah dari pada beraksi. Modal untuk berbicara hanya mulut dan kata. Namun aksi membutuhkan lebih banyak tenaga.

Sayangnya manusia suka yang mudah. Terlahirnya jutaan raga dengan mulut yang selalu bicara tanpa bekerja.

Maka semuanya seperti pertandingan sepak bola. Yang beraksi adalah 22 orang di lapangan tapi yang memberikan komentar, cibiran dan olokan adalah mereka yang duduk manis.

Sebenarnya aksi itu menggandung ribuan kata dan jutaan makna. Sebuah aksi jalan kaki dari ujung pulau ke Ibu kota demi menyuarakan sesuatu lebih disorot dan dipuji ketimbang yang lain.

Aksi lainnya, walau mungkin bisu tak bersuara.

Tapi kadangkala aksi nggak memiliki makna bila tanpa tujuan. Aksi nyata sekalipun jika salah tujuan itu salah.

Itulah mengapa bertindak harus memiliki dasar. Bukan asal bertindak.

Mungkin yang dinilai di mata Allah bukan hanya aksi. Niat dan penolakan di hati sudah mendapat pahala tersendiri. Namun aksi, dua kali lipatnya.

Jadi mau milih mana, dialog penuh retorika atau aksi penuh dedikasi

mungkin#1




Bertahan di keadaan sulit
2 Februari 2019

Pernah nggak sih merasa kayak, “ini kok sulit banget” atau “aku kayaknya nggak cocok ya” Bukan guwe banget nih”
Kalo kamu pernah berarti kita sama dan kita normal. Sangat normal. Semua akan mengeluh saat berada di zona tak nyaman.

Pertanyaannya, haruskah kita bertahan di zona yang nggak nyaman itu?

Jawabannya, relatif. Tergatung ketidaknyamanan apa yang terjadi. Masalahnya ada ketidaknyamanan yang bagus dan jelek. Ada yang harus dilanjutkan dan ada yang harus diubah.

Cara menentukan perlu tidaknya keluar dari zona nyaman adalah cari seberapa manfaatnya berada di zona tersebut. Bila banyak manfaatnya, lanjutkan. Kalo blas nggak ada gunanya segera tinggalkan.

Misal, kamu mencoba untuk membuat habits baru. Sulit sekali untuk konsisten dan selalu kehabisan ide dan tenaga. Tapi manfaatnya banyak banget. Bisa membuat kamu sehat, mengisi waktu luang secara produktif, menambah teman baru, bergaul di lingkungan yang kondusif.

Tapi masih terasa menyiksa (berat untuk menjalani). Maka kalo memang bermanfaat, apalagi besar banget harus tetap bertahan.

Contoh hal sulit yang harus dilanjutkan walau sulit dan (mungkin) menyakitkan : habbits yang bermanfaat (olahraga setiap pagi, menulis, membaca buku), perintah agama (shalat, puasa), belajar dan mengejar karir.

Ada juga hal berat yang harus dirubah, yaitu yang manfaatnya sedikit atau lebih banyak ‘rugi’nya kalo kamu melakukan hal tersebut. Udah buang-buang waktu, ngabisin duit, tambah-tambah dosa, dimarahin mama membuat nilai jelek.

Nah itu harus dirubah. Sedikit demi sedikit asalkan ada progresnya itu juga perubahan.

Kesulitan yang harus dirubah misalnya hobi. Kalo nggak nyaman atau bosen sama hobi tertentu boleh kok kamu cari hobi baru, asal lebih menguntungkan.

Kemudian pekerjaan atau (mungkin) jurusan/bidang belajarmu. Kalo kamu nggak 4E di pekerjaan atau passion kamu, mending coba untuk cari yang baru. Mungkin itu tanda kalo kamu nggak cocok untuk berada di sana.

Perilaku juga harus dirubah. Kalo kamu sadar itu buruk tapi kadang belum mau untuk pindah, mulai sekarang buat sesuatu yang produktif dan positif.

Terakhir, sebenarnya kerelatifan itu nggak ada batasnya. Sama dengan kenyamanan dan kesukaan. Kembali ke kamunya merasa nyaman atau tidak dan bermanfaat untuk dirimu atau nggak.

Follow Instagram