Fakta bahwa jika uang kuliah dipakai untuk usaha maka usaha yang dibangun akan lebih cepat berkembang dan menghasilkan profit., membuat aku ingin langsung ke dunia usaha. Aku sempat intensif mendalami peluang usaha tanaman Porang. Dengan modal menyewa beberapa ribu meter lahan dan
ditanami porang, dirawat hingga dua tahun, kemudian panen akan mendapatkan keuntungan yang lebih nyata dan
cepat.
Itu yang sederhana. Atau memulai usaha-usaha lainnya.
Uang besar modal kuliah
bakal bisa mendanai ongkos belajar dalam praktik usaha, bukan? Beli bahan
baku atau barang dagangan, sewa tempat atau buat website, biaya operasional
akan bisa tercover oleh uang tersebut.
Cerita dari beberapa teman yang sudah bekerja di
pabrik ataupun menjaga usaha makanan, mereka mengantongi minimal 1
juta hingga 1,5 juta dengan bekal ijazah SMA atau SMK mereka. Betapa tidak
tergiurnya aku saat itu.
Aku menemukan jawaban ini dari para mentorku baik di sekolah
maupun luar sekolah, dari berbagai bidang: dosen, wirausaha, freelance, wiraswasta, dan ASN.
Aku simpulkan begini, kegunaan kuliah itu melatih otak dan
otot kita dalam dua hal, skill hidup dan skill akademik.
Pertama, skill hidup (lifeskil) sesuai namanya adalah
kemampuan-kemampuan penting untuk meraih hidup yang aman dan nyaman. Secara
umum kemampuan ini seperti, berkomunikasi dengan baik, bernegosisasi, berorganisasi,
mengelola waktu, dan seterusnya.
Kemampuan ‘sepele’ lainnya terkait lifeskill yang juga penting antara lain,
mengurus kesehatan sendiri, pergi ke bank, ke pasar, mengurus dokumen (KTP,
Passport, dll), berkunjung ke pak rt, dan seterusnya.
Kabar bukurknya, daftar kemampuan-kemampuan ini harus
dilatih agar terbiasa melakukannya. Tidak bisa serta merta keluar, sak det sak nyet, harus terus
dilatih. Tidak bisa muncul dengan sendirinya,
tidak automatis hadir jika dibutuhkan. Kata guruku, harus dikondisikan dan
dicoba satu-satu.
Kedua, skill akademik yaitu kemampuan yang berhubungan
dengan perkuliahan itu sendiri. Kemampuan ini adalah membaca jurnal,
menyimpulkan, meriset, mengkritisi sebuah pernyataan, menulis laporan, dan
sebagainya.
Kemampuan ini juga seperti memastikan tugas dikerjakan dan
dikumpulkan, kemapuan non teknis mengenai komputer dan software,
mencari referensi, dan seterusnya.
Menariknya, di dunia pekerjaan kemampuan hidup dan
akademik akan sangat kepake. Meskipun subjek
yang dipelajari berbeda, skillset yang digunakan nggak akan jauh berbeda.
Maka tidak haran banyak perusahaan besar di negeri ini yang
masih mensyaratkan lulusan sarjana sebagai prasyarat mendaftar kerja. Yang
mereka cari bukan apa yang ada di kepala, tetapi lebih ke skill set yang sudah
terbangun selama kuliah.
Kata mentorku, untuk ngajari kerja itu mudah. Yang sulit
ngajari kerja keras, push limit, ngejar target dan seterusnya.
Dengan Berkuliah, Potensimu Akan Melejit
Jika semasa SMA siswa sudah
memiliki ketertarikan ke suatu bidang, di bangku perkuliahan minat itu
berpotensi “jadi”. Minat akan menjadi piawai dan ahli.
Kenapa aku bilang berpotensi, di
universitas ada banyak sekali UKM yang beragam sekali. Di Kampus kami, dari
mulai debat, pecinta alam, menulis, olahraga sampai beladiri ada.
Kalau pun tidak didapatkan di
kuliah, di sekitaran kampus ada banyak komunitas yang
sesuai minat kita.
Tentu PRnya adalah menemukan
tempat berkembang yang suportif. Menemukannya perlu waktu dan belum tentu
ketemu yang ideal sekali. Namun, namanya sudah dalam wadah yang disatukan minat
yang sama, akan mudah untuk maju.
Sebagai pembanding, jika sudah menemukan minat dan tidak berkuliah, seorang masih bisa mendapatkan
pengembangan minat di luar sekolah. Namun, harus lebih effort dalam menemukan
informasi di sosial media
atau di forum-forum minat terkait.
Namun, perbedaan yang jelas
sekali adalah penghargaan yang akan didapatkan di dalam kampus akan lebih
besar. Ini pendapat pribadiku.
Kedua, potensi pendanaan dan
pendampingan di kampus itu gede. Istilahnnya bakal diongkosi kalo mau lomba
atau akses modal bagi usaha mahasiswa
Ketiga, jaringan di kampus yang
memiliki minat serupa dan berhasil hidup dari minatnya tentu akan lebih luas
ketimbang yang tidak memilih masuk ke kampus.
Jadi Berkuliah Tetap Penting
Secara umum sangat penting, terutama yang butuh mengasah
life skill dan akademik skill di ranah formal, lebih khusus bagi orang yang menginginkan
pekerjaan di sektor formal. Di Indonesia selembar ijazah itu masih dihargai
lebih. Di masyarakat juga begitu, yang berpendidikan punya tempat yang lebih
tinggi ketimbang yang tidak.
Namun, tidak bisa dipungkiri tidak semua orang butuh kuliah
(formal). Menurutku, kebutuhan kuliah ini akan tidak relevan bagi para
pembelajar jalanan yang subjek ilmunya belum tersedia di
kampus.
Baik Kuliah Maupun Tidak, Belajar Adalah Kewajiban
Mau di dalam kampus, mau di luar kampus, di pabrik,
di pasar, di toko, di jalanan sekalipun, belajar adalah kewajiban bagi
yang orang ingin bertumbuh.
Belajar di luar kampus itu bagus karena akan bertemu dengan praktisi dan dihadapkan dengan pengalaman yang riil terutama bagi pelaku usaha dan korporasi.
Apalagi belajar di dalam kampus, selain menyiapkan otak dan
otot pengetahuan, peluang "maju" di kampus akan lebih besar bila mahasiswa
mampu memanfaatkan tiga-lima tahun belajarnya dengan baik.
NB: Agar
seimbang, perlu sekiranya aku menulis apa-apa yang tidak kampus ajarkan, tetapi
dibutuhkan sekali di kehidupan pascakampus. Soon insyaAllah.