Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Subjective

Terima kasih (2)

Yaa, aku masih hidup dan aku bersyukur masih hidup.

Pernah, rasanya ingin sekali untuk, ya, end this life, wkwk. Mungkin di luar dugaan banyak pihak.

Bahkan, beberapa kali mempertanyakan, why I still life?

Kenapa masih aja dikasih napas? Kenapa nggak diselesaikan aja?

Biasanya sih kepikiran hal tersebut pas lagi “budreg2nya”.

Untung saja, entah lewat siapa saja, Allah selalu kirim jawaban kenapa aku masih dikasih waktu untuk hidup. Entah temen, orang random di jalan, pas lagi ngaca, entah scroll sesuatu di medsos, atau siapapun, aku dapat semangat hidup walau bertahan 1-2 hari. Itu udah alhamdulillah banget.

Why I still life? Karena nggak mungkin tanpa alasan dong. Maka aku beneran kepo kenapa masih dikasih hidup sama yang Maha Hidup? Aku dikasih misi apa?

Jujur, aku masih meraba jawaban pertanyaan tadi. Aku masih terus nyari dan terus kepo. Beneran karena ini?

Untungnya sejak dulu aku punya tempat buat cerita, nggak banyak, bahkan mungkin orang tersebut atau sekelompok ini nggak nganggep aku lagi ngeluarin semuanya di sana, beneran semuanya. But, is true, terima kasih telah menyelamatkan hidup aku beberapa kali. Makasih udah bilang gapapa gak sesuai ekspektasi, gapapa salah, gapapa nunda.

Dan juga beberapa tulisan acakku di journal ataupun di wa dengan nomor aku yang lain. Its verry helpful for me! 

Aku tahu tulisan ini nggak berguna bagi banyak orang, tapi cukup bagi aku untuk mengeluarkan sedikit sambat aku di sini.

Malam, selamat hari Kesehatan Mental Sedunia!

KISAH LELE DAN KARIER PODCAST SAYA

Ketika SMP, saya pernah ikut unit bisnis lele. cukup lama, 1,5 tahun. Saya sedikit banyak memahami proses pembenihan sampai panen bahkan sampai bikin olahan lele.

Jenis lele yang saya budidayakan adalah lele sangkuriang, salah satu jenis yang paling banyak diternakan dan dijual di pasaran.

Namanya ikan (makhluk hidup) dalam kolam, harus dirawat dengan disiplin. Wajib diberi pakan 3-4 kali sehari, harus pas pula takaran pakannya. Juga cara ngasih makannya, tidak sembarangan. Kalo terlalu banyak dilempar dalam satu lemparan, lama-kelamaan pakan lele (pelet) akan kehilangan daya apung. Kalo tenggelam akan menjadi racun bagi lele.

Airnya harus rutin dicek. Kalo sudah bau dan banyak endapannya harus dibuang separuh kolam lalu diisi separuh lagi. Kalo tidak, satu kolam bisa mati masal.

----

Ceritanya, di asrama saya juga ada kolam lele. semuanya normal kecuali umurnya. Lele di sini usianya sudah lebih dari 9 bulan, tapi lelenya masih kecil-kecil. Jika ukuran lele siap panen dalam waktu 3 bulan adalah 10 ekor per kilo, lele di kolam ini hanya 25-30 ekor per kilo.

Apa problemnya?

Ternyata, tidak ada yang rutin merawat lele-lele ini. Pemberian pelet hanya 1x sehari, itupun kalo ingat. Kalo pakan habis bisa 1 pekan puasa lele satu kolam.

Poinnya adalah, lele ini usianya tua, 4 kali masa pembesaran, tapi karena jarang diberi pakan, ia hanya 1/3 dari ukuran normal.

Ini sindiran keras bagi saya dan karir podcast saya.

Saya mulai produksi podcast pertama Januari 2019. Sekarang sudah hampir 2 tahun (saat tulisan ini dipublish sudah lebih dari 2 tahun). Namun, hasilnya masih segitu-gitu aja dengan kualitas yang gitu-gitu aja.

Juga karir kepenulisan saya.

Persis dengan lele di asrama kami.

Kedepannya, saya tidak ingin punya kolam lele yang terbengkalai perawatannya.

Yang Terbaik Di Tahun 2020

Tulisan ini sudah terlambat sekali. Namun, dari pada tenggelam di draft. Selamat membaca!

Setiap tahun adalah spesial. Hanya terjadi sekali dalam hidup. Hanya sekali saja saat sebuah suasana, kondisi, kemampuan diri dan kedewasaan seseorang menemui satu tahun yang tidak akan mungkin terulang persis dikemudian hari.

Setiap tahun pasti beda. Minimal rasanya. Saat SD, naik kelas mungkin terasa bahagia, sedangkan di SMA tidak (sebahagia ketika SD). Usia bertambah, sudut pandang bergeser dan pengalaman-pengalaman baru. Selalu luar biasa.

2020 spesial sekali. Saya sudah tidak SMA lagi, sudah 18 tahun, juga ada pandemi.

Semakin lebar dan agak semakin tajam. Saya semakin banyak explore hal baru. Juga semakin mempertajam beberapa hal yang sejak lama saya minati.

Yang melebar: saya akhirnya belajar yang SMA umumnya pelajari. Matematika, Sejarah, Sosiologi, Geografi. Cukup sulit ternyata dan saya belum terbiasa. Sampai sekarang (September 2020) saya belum menyelesaikan materi-materi itu.

Yang menajam: organizing skill saya. Buat kegiatan online pertama kali, berjuang untuk fundraising backpacker ke luar negeri. Menulis lebih sering dan beragam. Dan masih banyak lagi.

Begitu banyak hal baik yang terjadi: saya menjadi ketua pelaksana sebuah kegiatan sekolah yang saya tidak bisa hadir. Jadilah itu event remote pertama saya; Pertama kali pesan barang ke vendor dengan jumlah cukup besar dan lobi harga sangat serius. Kemudian saya bingung bayar sisa tagihannya; Pertama kali berada di rumah (saya ketika menulis ini di asrama) dalam waktu 6 bulan; Akhirnya main twitter (seru juga ternyata); Beli domain blog saya ini (faruqrakhmat.web.id); Ketemu banyak obrolan seru (podcast dan audio podcast); Ikutan MOOC untuk pertama kalinya dan terdampar di pondok ini (lagi).

Moment Terbaik

Ketika harus memilih satu moment terbaik dalam setahun, menurut saya adalah ketika saya lulus SMM bulan juni lalu.

Walaupun tanpa wisuda, tanpa foto-foto, tanpa semua yang terbayang di kepala saya; toga, presentasi untuk penutupan sekolah dan backpacker ke luar negeri. Meski tanpa itu semua, lulus SMM adalah hal terbaik.

Lalu apa yang membuatnya terbaik?

Yang membuat spesial adalah hari terakhir di saya SMM. Para siswa dipanggil ke sekolah, setelah 2 bulan libur pandemi. Kami diminta mengisi 2 lembar Formulir Lesson Learn. 

Sebenarnya, hampir setiap pekan kami mengisi form ini, untuk evaluasi pekanan dan projects kami. Yang membuat berbeda, form kali ini diisi untuk mengevaluasi hasil 3 tahun kami di SMM. Bagaimana hasil akhir project-project kami. Tuntas atau tidak. Kualitas outputnya baik atau tidak?

Bagi saya ini berat. 

Ada 2 tabel. Sebelah kiri adalah hasil 7 teratas dari Talent Mapping siswa. Sebelah kanan tabel kosong yang harus diisi; apakah talent kami terkonfirmasi lewat project atau tidak. Memenuhi syarat 4E atau belum.

Talent Mapping adalah sebuah tool untuk mengetahui bakat dan potensi dengan mengisi asassment. Sudah pernah kami lakukan di kelas 10. 

Ini adalah "ujian kelulusannya". Ujian paling sulit. Self reflection. Nantinya akan dicocokan dengan milik coach kami.

Bagi saya yang tidak fokus dalam satu bidang, sulit untuk bilang 'no' ke peluang yang ada atau ke rasa penasaran yang muncul. Positifnya, rasa penasaran saya terpuaskan dan lebih tahu banyak hal. Minusnya, saya kehilangan sejumlah waktu untuk memperdalam apa yang sudah saya minati sebelumnya.

Di lembar itu ada 7 karakter teratas saya dari hasil assesment. Karakter-karakter ini, serasa dan sepengetahuan saya, terkonfirmasi semua. Namun, belum ada yang sangat ahli dan memberi keuntungan besar bagi saya, terutama dalam finansial.

Berbeda dengan beberapa teman kami yang fokus di satu atau dua hal, mereka bisa merasakan impact finansialnya. Sampai ke E yang keempat yaitu earn.

Konfirmasi Bakat

Kemudian, setelah mengisi dan diskusi sesama murid, kami menghadap guru sekaligus kepala SMM, Bu Tina, satu per satu. Ini, sekali lagi biasa kami lakukan, karena tiap coaching pun begitu.

Namun, karena ini adalah coaching formal terakhir, rasanya beda. Apa yang dibicarakan berbeda. Bagi saya, inilah yang menyebabkan hari ini menjadi hari terbaik tahun 2020.

Coach kami memberikan wejangan-wejangan yang belum pernah kami dengar. Bagaimana setelah lulus, tips di kuliah atau di dunia wirausaha, kehidupan percintaan dan sebagainya.

Karena pamungkas, sampai yang tabu bagi saya ada di pembicaraan ini. Well, the best day emang gini.

Terimakasih sudah membaca sampai akhir!

Awal Dewasa dan Merantau

 Transisi dari masa kecil ke dewasa itu sulit. Meninggalkan kenyamanan dan rasa aman yang ada itu juga sulit. Sebagian orang menyebut masa ini remaja. Namun, saja lebih nyaman dengan masa awal dewasa. Saya definisikan: masa awal dewasa dari SMA--bahkan bisa lebih cepat--sampai sudah dewasa. Saya belum bisa menentukan kapan usia dewasa. Paling tidak saat saya menulis ini.

Namanya peralihan, pasti banyak kendala yang bakal dihadapi. Semoga kita semua setuju bahwa beralih dari orang satu ke yang lainnya itu sulit. Dalam bidang percintaan maupun lainnya. Kendalanya: adaptasi, ketidakcocokan dan belum terbiasa dengan semua yang baru dari sosok orang baru.

Sama dengan itu, transisi dari kecil ke dewasa juga banyak sekali masalahnya. Yang paling besar menurut saya adalah adanya perasaan yang beda antara keduanya. Menjadi kecil, umumnya, akan dijaga, disayang, dicintai, dibiayai, bahkan disuapi. Ketika dewasa, satu per satu lepas. Bahkan ada perasaan ini jauh dari mereka yang dulu memberikan masa kecil yang baik.

Keadaan sosial juga akan berubah, sedikit demi sedikit, menuju ke keadaan yang rumit dan kompleks. Waktu kecil, teman satu gang adalah yang terbaik. SMP dan SMA, teman sekelas atau seorganisasi bisa menjadi sahabat. Kuliah apa lagi, bisa jadi satu pertemuan random (ketemu di konser atau medsos misalnya) dengan seorang bisa membuat pertemanan yang akrab.

Jaringan akan sedikit banyak meluas. Gabung di organisasi, pertemuan dengan satu kelompok atau antar kampus. Diskusi dan debat, semua kegiatan proker dan penyelesaian masalah internal.

Tentu dengan lebarnya pertemanan yang ada, gesekan antaranya akan timbul. Marah, salah persepsi, adu mulut dan dinamika pertemanan lainnya.

Selain itu, saat beranjak dewasa, seorang akan dihadapkan dengan berbagai pilihan. Terlalu banyak yang bisa diambil, yang kadang, satu dan lainnya terlalu menggiurkan untuk dipilih.

Membuat keputusan adalah hal biasa dalam kehidupan dewasa. Namun bagi awal dewasa, itu sangat berat. Seberat mengambil ekskul yang beda dengan sahabat kita, juga sama beratnya dengan belajar sampai larut demi perguruan tinggi yang diimpikan, atau meninggalkan liburan keluarga karena ada project kampus.



Sumber : medium.com/Tribun Pontianak


Tentu, ada kalimat sederhana yang bisa mewakili awal dewasa. Semua adalah berproses. Cukup sederhana sampai saya sendiri kewalahan dalam berproses. Dalam masa awal dewasa ini.

Yang saya rasakan, berproses itu melelahkan. Semua pilihan yang saya ambil terasa capek ketika dikerjakan dan berusaha bertanggungjawab dengannya.

---saya benar-benar berhenti sejenak ketika menuliskan ini--

Pilihan saya jauh dari orangtua, pilihan saya sekolah, kemudian yang sedang berjalan ini. 

Saya pernah berpikir untuk selesai dan menyerah, Ketika di tengah-tengah perjalan dari satu keputusan saya. Karena saking beratnya apa yang saya rasakan. Namun nyatanya, berkat kemudahan yang Allah berikan dan kesabaran saya, terlalui dengan baik. Setidaknya tuntas.

Saya pernah bertanya, kemudian merenung, apa output dari proses ini?.

Kata orang dan saya sampai saat ini membenarkan, adalah untuk menjadi mandiri.

Dewasa sama dengan kita mandiri. Semua kebutuhan dan keinginan adalah tanggung jawab kita dan dewasa adalah waktu saat kita bisa mencukupinya dengan upaya kita. Walaupun, bisa jadi, kita masih ada di bawah asuhan orangtua namun kemandirian itu hadir, maka selamat anda telah dewasa.

Salah satu yang menurut saya pribadi bisa mengakselerasi kedewasaan adalah dengan cara merantau. Ini kebetulan saya lalukan 6 tahun lalu saat saya berangkat SMP di kota seberang. Alhamdulillah, saya merasa kemandirian itu mulai muncul. Setikdanya saya bisa bertahan dengan semua keputusan saya.

Merantau akan efektif jika di tempat rantau kita lepas dari bayang-bayang dan back-up orangtua. Namun, akan sama saja jikalau merantau dan tetap sama seperti di rumah.

Rantau yang baik membuat perantau mandiri, terkadang gelisah dengan besok makan apa karena akhir bulan, atau, tak sengaja merusak fasilitas sekolah yang harus segera diganti tanpa sepengetahuan orangtua.

Rantau yang baik membuat luar kamar kos-kosan menjadi tempat kita berkiprah, membantu teman atau aktif di organisasi atau project kampus. Namun membuat dalam kos-kosan dan ranjang menjadi tempat capek dan tangis kita berlabuh.

Rantau yang baik, menjadikan seseorang dapat keluar sebagai orang yang dewasa dan mandiri bersamaan dengan kelulusan kuliahnya. Juga membuat seseorang siap masuk ke sesi berikutnya dalam hidup, dunia nyata.

Bagi yang belum sempat merantau, ada kabar baik untuk kalian. Tidak harus merantau untuk dapat mendiri. Bahkan banyak yang sampai lulus kuliah tetap satu rumah dengan orangtua ketika ia kerja ataupun berkeluarga mandiri itu muncul dengan sendirinya.

Karena rumah juga bisa diatur sebagai latihan pendidikan kemandirian seseorang.

Akhir kata, saya hanya ingin menumpahkan beberapa kegelisanan saya. Terimakasih sudah membaca.

Gabyear Bukan Pengangguran

Gabyear Bukan Pengangguran

Lebih dari sebulan beberapa perguruan tinggi mengumumkan hasil kelulusan mahasiswa baru. Dari sekian jalur yang disediakan, banyak yang lolos, lebih banyak lagi yang tidak—menurut hitung manual jumlah kelulusan SMA sederajat dibanding jumlah mahasiswa baru tahun lalu. Ada juga perguruan tinggi yang menampung sisa-sisa calon mahasiswa yang belum dapat tempat berlabuh. Namun masih ada juga—kali ini takut bilang lebih banyak—yang mengambil jalan gabyear—berhenti sekolah formal. Ini juga jalan yang saya ambil.

Transisi sebagai pelajar ke gabyear—buat saya—praktis tidak sulit. Berhubung sekolah lama juga menerapkan sistem homeschooling yang lebih leluasa jam pelajarannya.

Yang terasa jomplang adalah perasaan saya, karena ketika masih bergelar pelajar rasanya aman-aman saja. Jika ditanya tetangga masih bisa jawab asal sekolah saya. Namun ketika ditanya, "Masih sekolah?" atau "Kuliah di mana?" terus terang agak bingung jelasinnya dan batin saya terguncang sedikit—malu.

Kemudian saat kemarin sering di Mbah dan bertemu dengan tetangga depan tak jarang mendengar kalimat "Kok ndak sekolah lagi?", "Kok di sawah terus, ngerjain apa, toh?".

Hati rasanya sedikit kesenggol.

Saya juga merasa menjalani aktivitas—selain belajar—seperti tidak produktif, atau tidak seproduktif dulu ketika mengejar materi dan tryout. Melakukan kegiatan domestik rumah tangga juga terbesit, "Nih aku di rumah ngapain? kerjanya cuma cuci-nyapu-masak".

Apalagi ketika saya bosan dan membuka status WhatsApp yang keluar teman-teman saya share kegiatan kuliah online mereka, atau sekadar buku-buku perkuliahan baru yang tebel-tebel itu. Rasanya agak minder.

Kalo saya baca-baca pengalaman gabyear di Twitter, mereka rata-rata sama, dapat tekanan yang berat, dianggap menyia-nyiakan waktu. Mereka juga sering dicibir oleh tetangga, saudara-saudara yang kuliah, om-tante yang—mencoba—peduli dengan hidup kita. Sumpek rasanya, kata mereka. Apalagi di awal-awal.

Fenomena gabyear ini di Indonesia masih dianggap demikian, sedang di beberapa negara maju, gabyear menjadi wajar. Nggak salah.

Menurut Allan Schneitz, penggagas konsep Dream School di Finland, "Lulusan SMA di sini tidak harus langsung kuliah". Mereka yang baru selesai jenjang SMA boleh untuk berhenti pendidikan formal untuk berfikir sejenak apakah perlu kuliah atau tidak. Lanjutnya, "Kuliah atau tidak, mereka akan terus belajar".

Gabyear tidak sama dengan pengangguran. Ada orang yang lulus lalu menganggur tapi konsep gabyear bukan tidak melakukan kegiatan sama sekali. Menurut saya—bisa jadi ini pembelaan semata—kita harus mengganggap setara yang langsung kuliah dan yang ambil jeda. Sama-sama masih belajar, sama-sama berjuang, sama-sama pusing, dan tentunya sama-sama produktif.

Gabyear tentu bukan cuma mengambil libur panjang untuk menghindari belajar. Justru jeda waktu dipakai untuk berfikir mau lanjut belajar apalagi dan harus lanjut belajar atau tidak.

Saya menyarankan bagi kawan yang ambil jeda harus sama sibuknya dengan yang kuliah. Kita sebaiknya punya jadwal sendiri, target pribadi, kalo perlu buat silabus satu semester mau mencapai apa saja. Kalo perlu juga, kita minta kawan untuk menilai hasil gabyear kita.

Berkuliah merupakan hal baik tidak mengambil kuliah sekarang juga baik. Yang sama sekali buruk adalah luntang-lantung tanpa tujuan tanpa arah di jalanan kehidupan. Pilihan jalan tak terbatas bos, tapi jangan sampai lupa hidup ada batasnya.

--

Terimakasih sudah membaca, silakan tinggalkan jejak di komentar atau hubungi penulis di email tertera.

Belajar Dari Cara Burung Berkomunikasi

Sebulan lebih saya di sawah, banyak hal yang bisa saya pelajari dari sini. Pertaniannya, problem solvenya, interaksi dengan petani lainnya dan masih banyak lagi.

Di tulisan ini, saya ingin berbagi satu insight menarik dari pekerjaan saya di sawah, mengusir burung. Tugas ini dinamakan "tunggu" oleh penduduk sekitar. Sesuai namanya, jobdesknya adalah menunggu dan mengusir burung Pipit yang datang dan hendak memakan padi.

Tree sparrow | The Wildlife Trusts
Burung Gereja Sumber: Wildlifetrusts.org
Kata orang-orang di sawah, burung punya cara ngobrol dan koordinasinya sendiri. Saya melihat burung ini tidak sembarang dalam makan padi. Mereka punya strategi.

Burung pipit selalu terbang bersama kawanannya. Mereka berangkat saat matahari terbit dan pulang ketika tenggelam. Mereka punya koordinator (saya yakin ada!) yang membagi tugas sebagai berikut.

Tim Survei. Tim Penorobos dan terbagi menjadi beberapa tim kecil lainnya.

Tim survei bertugas di awal, mereka mencari lahan padi yang mulai berbuah di sekitaran sarang mereka. Kadang tim ini bisa terbang lintas desa dan kecamatan.

Tugas lainnya dari tim survei adalah mencicipi padi pertama kali. Karena mereka akan enggan makan di padi dengan treatment tertentu.

Tim penerobos tugasnya saat eksekusi. Terdiri dari 1 atau 2 burung saja. Mereka bertugas mencari celah dan masuk untuk bertengger di orang-orangan sawah atau tempat tinggi lainnya. 

Tim penerobos mengorbankan dirinya untuk tidak makan di awal, tapi mereka memberikan kode bahwa daerah itu siap untuk diserang, lalu makan bersama-sama.

Beberapa tim lainnya bertugas di penyerangan. Awalnya mereka akan berkumpul. Namun ketika diusir mereka akan berpencar dalam jumlah puluhan. Mereka mengamati padi dari kejauhan, lalu terbang rendah perlahan dan happ, satu kawanan lolos dan memakan padi.

Begitu terus hingga saya sendiri capek menghadapi mereka. Ahahah

Merupakan sunnatullah bahwa burung-burung memiliki insting untuk mencari makan. mereka juga dibekali kemampuan komunikasi sederhana yang "cukup" untuk membuat sepanjang hidupnya atau paling tidak mereka pulang dalam keadaan kenyang.

Orang yang Setengah-Setengah

Saya suka eksplorasi banyak hal. Teknologi, kesusastraan, pertanian, komunikasi, sejarah dan sebagainya. Namun ada 1 hal kelemahan saya di semua bidang itu, saya dangkal pemahamannya di semua bidang yang saya sukai.

Ini menjadi problem pribadi saya. Ketika mulai mencoba sesuatu pasti akan ada waktunya saya lepaskan. Saat saya berada di posisi semangat tertinggi, saya yakin akan turun dan hilang dari radar pikiran saya.

Saya generalis. Tepatnya, tidak punya keahlian yang bisa saya banggakan. Saya terlalu fokus ke banyak hal sehingga saya tidak mampu sempurna di salah satunya. Setidaknya sampai hari ini.

Ketika saya menulis, saya rasa hasil ketikan saya masih jauh dari layak publish. Ketika saya merekam podcast, komposisi suara serta perbincangannya masih belum melewati standar saya. Ketika membuat event atau project, saya sering tidak puas dengan hasilnya.

Saya tahu solusinya, cari 1 atau 2 yang ingin ditekuni lalu melejitlah di sana. Terdengar mudah bukan?

Atau jawaban lainnya, coba temukan "why" dari yang saya lakukan.

Tidak. Saya sedang berproses. Pertumbuhan itu memang seperti ini. Seperti semangka yang ketika umur 1 bulan kadang mandeg atau melipat daunnya. Begitu alasan saya dalam hati.

Seperti banyak tulisan saya yang tak berujung dan berkesimpulan, saya akan biarkan anda tetap bingung dan memikirkan jawabannya. 

Kenapa pakai "Saya", "Aku", "Gw" dan "Ane" pada percakapan yang berbeda?

Tulisan ini saya buat karena terkadang saya merasa aneh sendiri dengan pemilihan kata ganti orang pertama yang merujuk ke saya dalam beberapa platform. Di percakapan sehari-hari, "Ane" dan "Aku" paling sering digunakan. Di tulisan formal seperti esai dan blogging menggunakan kata ganti "Saya" dan di Twitter "Gw".

Mengapa demikian? Setelah saya berfikir sebentar ternyata beda pasar beda gaya bahasa.

Di percakapan biasa atau status WhatsApp misalkan, lawan bicara saya adalah orang yang tentu kenal dengan saya atau paling tidak pernah interaksi langsung dengan saya. Makanya saya gunakan "Aku" sebagai kata ganti pertama.

Kalau di esai tentu menggunakan "Saya". Pernah sekali memakai "Aku" dan mentor saya bilang, "Ini esai atau curhatan?".

Di blog, saya lebih ingin kelihatan formal saja. Mungkin pembaca blog saya terbatas di orang-orang yang mengikuti saya. Namun, saya ingin dikenal lebih profesional di mata pembaca. Setidaknya ada sisi profesional dari saya yaitu di blog.

Yang terakhir, "Gw". Ini hanya saya gunakan di Twitter yang saya lihat banyak penggunanya menggunakan gue-elu atau biasa dibilang anak Jakarta Selatan (anak Jaksel).

Awalnya hanya menyamakan bahasa dengan mereka saja tapi makin kesini saya nggak kagok lagi menggunakan kata ganti "Gw". Untuk nulis lho, ya. Kalau bicara pasti masih kedengaran "medok"-nya.

Saya lebih memilih menjadi berbeda di berbagai platform. Pertama, latihan agar bisa gonta-ganti karakter. Kedua, biar bisa nyambung sama orang-orang.

Tentu banyak yang berprinsip "Bangga dengan gaya masing-masing". Pilihan bahasa salah satunya. Saya sejujurnya kagum dengan orang yang konsisten di sosial media, obrolan dan tulisan. Karakternya di manapun sama.

Cancel Culture dan Bertumbuh

2.00 WIB. 

Baru saja merapikan etalase podcast saya yang lumayan berantakan. Menyeragamkan dan mengganti picture profile agar lebih aman.

Sambil revisi detil-detil penting di podcast, saya kepikiran, "Ini episode sampah banget. Pemahaman minim, ketemu orangnya baru dikit dan fix mindset lagi". Lalu saya berfikir untuk hapus nggak ya?

Kalo dihapus sayang. Walaupun takut jadi boomerang di masa depan kalo ada sesuatu.

Saya ingat kata salah satu ustaz dalam bukunya yang sempat dicetak ulang 10 tahun setelah cetakan pertamanya terbit. Beliau menulis, "Biarkan tidak saya ubah isi dari buku ini sebagai tanda dulu pemahaman saya masih dangkal, contoh saya masih kurang dan pertemanan saya masih sempit".

Jadilah saya biarkan saja tetap seperti adanya.

Saya kepikiran satu hal, kalo emang jelek gimana donk?

Kalo emang jelek pasti gak ada yang dengerin. Kalo emang jelek sekarang harus buat lagi yang lebih baik.

Setiap Karya Bertumbuh

Saya percaya, yang hidup pasti bertumbuh. Begitu pula tulisan saya, podcast saya dan karya saya lainnya. Jika sekarang masih jelek, mungkin bulan depan akan jadi agak jelek, lalu tahun depan bagus, dua tahun lagi bagus banget.

PR-nya adalah menemukan orang untuk diajak tumbuh bersama. Mencari lingkungan yang bisa memacu kita naik dan terus meningkat. 

Berjejaring dengan orang baru, mengenalkan diri dan bersosialisasi lagi, lebih giat share link ke nomer personal, baca lebih banyak buku dan seterusnya.

Lalu merubah mindset menjadi growth mindset yang terbuka tapi terfilter dengan baik.

Alasan Kenapa Saya Berhenti Nonton Bola...

Saya termasuk laki-laki pada umumnya yang suka sepak bola. Tapi itu dulu, sekarang nggak sama sekali. Bahkan update tentang kabar bola pun saya nggak dapatkan.

Suka main tentu dari kelas 1 SD. Suka main belum tentu jago lho ya. Pas SD, ada masa ketika saya bisa jadi kiper yang paling jago sampai nggak pernah kebobolan. Tepatnya kelas 3 SD dipermainan futsal.

Menonton bola menjadi salah satu tontonan bagus di sore hari selain kartun Naruto yang tayang mepet maghrib. Ketika mulai pulang sore saat kelas 3 pun acara yang pertama kali dicari adalah sepak bola. Waktu itu Indonesia Super League lagi sering tayang di ANTV. Belum ada dualisme dalam sepakbola tanah air.

Kerjaan saya tentu nonton bola full match di sore hari dan biasanya ada big match di akhir pekan. 

Ketika itu, saya bahkan hafal nama tim, pemain, pelatih dan komentatornya. Persija dengan Benny Dollo dan Ismet Sofyan, Persitara dengan Okto Manianinya, Muhammad Ridwan di Persib, Boaz di Persipura dan sebagainya. 

Sayangnya, tim yang saya dukung malah terdegredasi di akhir musim. Bingung juga kenapa bisa sedih waktu itu.

Selain ISL, saya juga sering nonton Premier League atau liga Inggris. Tanpa tim andalan awalnya dan saya akhirnya jatuh hati pada Chelsea, Lampard, Didier Drogba dan pemain lainnya pada musim 2010-an.

Liga Inggris pasti tayang di malam hari. Jadwal paling awalnya pukul 20.00 WIB dan biasanya super big match (begitu mereka menamai laga big match) jam 1 dini hari. Anehnya, beberapa kali saya menyempatkan diri untuk nonton full match.

Lanjut, momen puncak-puncaknya saya nonton dan heboh dengan bola pada akhir 2010 atau piala AFF. Finalnya Indonesia vs Malaysia yang sangat menegangkan. Saya betul-betul ingat, dua pertandingan dengan agregat 4-2 untuk Indonesia. 

Di partai terakhir, di menit akhir dan peluit dibunyikan saat skor tetap 2-0 untuk Indonesia tapi tetap kalah agregat. Di detik itu juga saya lompat dari kursi dan menangis. Orang tua saya bingung dengan kehisterisan malam itu.

Sejak itu, saya bertekad untuk tidak fanatik terhadap sepak bola. Fanatik = menanam bibt sakit.

Lanjut, setelah kejadian itu, saya masih sering nonton bola. Sampai masuk ke SMP tahun 2014. Kebetulan banget masuk asrama tanggal 14 Juli dan malamnya ada final piala dunia Argentina vs Jerman. Di asrama kakak tingkatnya nyewa TV dan PS (PSnya nggak sempat dipakai) untuk nonton finalnya.

Jadilah saya, di malam pertama saya di asrama malah nonton final World Cup bersama seluruh teman dan assatidz (yang kebetulan suka bola juga).

Alasan kenapa berhenti? Simpel nggak ada waktu bahkan untuk nonton highlightnya di YouTube. Sekarang saja nggak tahu siapa yang menang EPL tahun ini.


Dua Tempat Tidur

Akhir-akhir ini aku tidur nggak jelas. Nggak jelas tempat tidur dan pola tidurnya. Aku nggak tahu, mungkin aku lagi kena penyakit tidur.

Kalo di kamarku, ada kasur dengan banyak banget bantal dan guling. Kebanyakan sampai nggak rapi kalo dilihat. Empuk karena kasur maupun bantal terbuat dari bahan kapuk. Hanya ada 1 yang bahan busa.

Kasur berantakan karena kebanyakan barang

Nah satu lagi tempat tidurku ada di samping-bawah kasur. Aku sering tidur di lantai dengan alas karpet. Karpetnya tebel jadi nggak takut kena paru-paru basah. Kalo aku tidur di bawah paling cuma 1 bantal 1 guling.

Nah 2 tempat tidur ku dengan 2 kondisi berbeda. Kalo aku tidur di atas kasur berarti aku beneran pingin tidur. Kalo di bawah berarti aku pingin istirahat sebentar saja, nggak tidur. Atau sering juga tidur di bawah ketika stress dan mau ngilangin pikiran tersebut tanpa menghabiskan waktu untuk tidur. 

Well nggak jelas juga alasanya, tapi aku sering banget stress release dengan melakukan hal yang nggak biasa salah satunya tidur di lantai.

Apa nggak pegel tidur di lantai? Nggak sih selama ini sering ketiduran di sajadah atau pas habis belajar nyender terus ketiduran. Masih aman-aman aja. Masih nyaman dan nggak pernah ngeluh pegel-pegel. Malah sering pegel kalau salah posisi tidur karena kebanyakan bantal hihihi.

Oh ya satu lagi, aku tidur di bawah kalo kasur lagi penuh sama jemuran kering. Entah kenapa males tidur bareng jemuran. 

Jemuran kenapa taruh di kamar? Simpel alasanya biar ruangan lainnya nggak kelihatan berantakan. Ibarat kalo di dalam kamar nggak sering dilihat jadi aman lah ya hahaha.

Anyway, thanks buat kamu yang udah baca sampe bawah, feel free untuk kasih komentar di sini.

Atau kasih tau aku di WhatsApp kalo kamu udah sampe akhir tulisan.

New Normal Itu Gampang

Ya Allah judulnya click bait sekali hahaha

Maksudku di tulisan ini adalah merusak kebiasaan baik itu mudah.

Kenapa? Emang begitu. Belum nemu kata yang pas untuk menjelaskan statement awal.

Biar mudah pake analogi ya.

Aku pernah mau coba untuk berjemur tiap jam 10 pagi. Dulu ada yang bilang kalo covid-19 mati jika kena matahari. Akhirnya aku nurut dan mulai membiasakan jam 10 pagi berjemur 15 menit.

Tentu nggak mudah untuk melakukannya setiap hari. Paling susah kalo bangun jam 10 terus diminta langsung berjemur. Beuh, rasanya udah kayak wadah kaca di freezer langsung diangetin. Serasa mau pecah.

Itu saat mulai. Sulit? Oiya tentu.

Saat memutuskan kebiasaan baik itu sangat mudah. Percaya deh. Paling cuma ada rasa yang salah. Semacam harus ngelakuin sesuatu tapi kok nggak. Kamu pasti tahu rasanya.

Tiba-tiba hari kedua nggak melakukan aku udah nggak ngerasa bersalah. Plong aja tanpa perasaan yang kemarin.

Sama dengan puasa. Walaupun udah 30 hari puasa, berhentinya tuh mudah banget. Mau bangun sahur di h+1 aja sulit banget kan? 

Poinku adalah kebiasaan baik itu susah untuk dibiasakan. Namun memutuskan pola yang udah dibuat lebih gampang dari memulainya.

Anyway, thanks buat kamu yang udah baca sampe bawah, feel free untuk kasih komentar di sini.

Atau kasih tau aku di WhatsApp kalo kamu udah sampe akhir tulisan.