Menyambung tulisan di atas (nulisnya beneran di atas WhatsApp chat tulisan ini hahaha), bahwa jalur yang aku ambil sekarang merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang kuambil sejak SMP. Keputusan-keputusan yang kuambil sejak SMP hingga SMA memiliki andil dalam menghadirkan aku hari ini di jurusan sejarah.
Aku ingat benar nem atau nilai ujian nasional SMP ku yang cukup tinggi, tetapi kurang untuk mendaftar di SMA negeri tujuanku. Saat itu penentuan SMA masih didasarkan oleh skor ujian nasional bukan oleh jarak siswa ke sekolah. Alhasil aku tidak masuk ke SMA itu.
Sedikit lompat, bahwa pada saat aku SMP, aku terekspos teman-teman di asrama mahasiswa yang berkuliah di jurusan teknik, pertanian, dan sebagainya yang utamanya berdasarkan IPA. Hal itu membuat sedikit banyak aku ingin masuk ke jurusan teknik waktu itu.
Akan tetapi, ketidaktahuan akan ketentuan IPA-IPS di SMA yang membuat aku ga mengincar SMA negeri selain SMA yang aku incar tersebut. Seharusnya aku masuk SMA mana saja yang berjurusan IPA untuk menunjang keinginanku masuk jurusan teknik.
Waktu berjalan, aku tidak diterima dan aku melanjutkan sekolah di SMM yang notabene adalah kesetaraan SMA paket C jurusan IPS. Artinya aku ga bisa masuk jurusan yang berbasis IPA, dong.
Keputusan gak masuk ke IPA ini pun membuat aku tidak bisa mengejar mimpi kuliah di teknik.
Lanjut, ketika tengah SMM, aku cuma masuk di program kesetaraan saat ujian akhir di setiap semesternya dan ujian sekolah. Yang pasti aku sangat jarang belajar.
Sedangkan aku punya impian saat naik kelas 12, kebetulan pada saat itu aku mengantarkan kakak ujian di UGM, aku ingin berkuliah juga di UGM.
Tentu ini berkebalikan. Aku yang ga pernah belajar tapi mimpi masuk UGM.
Hasilnya? 2020 aku ditolak UGM di utbk. Maklum sekali.
2021 Allah rezekikan kepadaku untuk bisa mengejar ketertinggalanku dengan aku ikut salah satu bimbel offline di Semarang. Tetapi, karena ketakutan ku kalo tidak kuliah dan gak lolos jalur sbmptn, maka aku tidak memilih jurusan dan kampus tujuan di utbk 2 tahun lalu (yaitu komunikasi UGM dan Undip) dan memilih jurusan tempat aku berkuliah sekarang.
Intinya apa? Aku ingin menekankan bahwa keberadaan ku hari ini karena bergulirnya keputusan ku pada saat SMP, SMA, dan pasca SMA sebelum kuliah.
Aku punya keyakinan bahwa teman-teman lainnya pun sama, ada saja yang menghantarkan mereka ke titik ini oleh kejadian yang ada ketika SMP dan SMA.
Begitulah.