Kemarin secara tidak sengaja aku menemukan sebuah konten mengenai penggunaan trigonometri pada kehidupan sehari-hari yaitu salah satunya mengukur ketinggian suatu benda. Mirip seperti menaksir lebar sungai pada pelajaran Pramuka pas SD. Detailnya bisa kamu cek di klip berikut.
https://www.instagram.com/reel/CsQoVbkr-Fg/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
Video ini selain menunjukkan betapa berguna matematika pada kehidupan nyata (hei! banyak yang menyangsikan hal ini) dan betapa cintanya aku terhadap matematika.
Aku suka menghitung sesuatu, baik yang sebenarnya bisa untuk tidak dihitung maupun yang bisa dihitung. Aku tidak alergi dengan angka (aku sempat menemukan orang yang kalo lihat soal matematika yang itu adalah angka langsung skip hahaha).
Aku suka mengerjakan soal (tentu materi yang aku bisa), terutama soal-soal cerita. Ketika matematika digabungkan dengan cerita dalam otakku mengimajinasikan bangun datar atau soal yang dimaksud dan menurutku hal itu keren! (Walaupun kadang kala imajinasiku berbeda dengan persamaan yang sebenernya diminta).
Apa yang aku suka dari matematika?
Pertama, matematika itu ngajak mikir dan aku kalo pas 'sehat' suka mikir hahaha.
Kedua, matematika itu enggak saklek dalam artian bisa kok kita menemukan jawaban yang benar dengan berbagai cara. Aku dan beberapa teman belajar matematikaku seringkali berbeda dalam cara pengeringan suatu soal, bisa jadi dia mengerjakan bagian a dahulu dan aku bagian b dahulu atau dia menggunakan cara ini yang tidak aku gunakan, tapi, menakjubkannya, hasilnya sama!
Ketiga, di suatu titik, aku ketemu dengan orang yang seru aja kalo berdiskusi dengan soal matematika. Itu membuat pengalaman mengerjakan soal semakin seru.
Pernah jengkel dengan matematika?
Sering. Terutama kalo udah mengerjakan soal sudah panjang lebar, tapi gaada jawabannya di pilihan ganda. Itu geregetan abis sih.
Atau pas dicek sama guru, jawabanku salah, karena ternyata di kertas coret-coretan keselip 1 angka yang salah (kadang karena kurang teliti dalam melihat angka sebelumnya (ini karena tulisan saya jelek banget apalagi di kertas coret-coretan makin jelek ditambah dengan kecepatan mengerjakannya diburu waktu)).
Sejak SD aku suka dengan matematika. Alhamdulilah aku dikaruniai kemudahan dalam menerima materi. Sampai SMP pun aku suka dan mampu untuk mengerjakan soal matematika. Bukti kemampuan bisa dilihat di ijazah SD dan SMP yang menunjukkan nilai '9.00' pada ujian matematika atau cuma salah 4 dari 40 soal yang diberikan.
Namun, pada saat SMA, di mana SMA ku tidak meprioritaskan kemampuan akademik, aku mulai meninggalkan semua pelajaran termasuk matematika. Alhasil, ketika tahun kedua di SMA ada pelajaran akademik lagi aku udah duluan males untuk belajar (karena merasa ketinggalan pelajaran). Aku ingat banget waktu itu tiba-tiba masuk materi matriks, tapi aku hanya hah hoh saja.
Materi yang membuat aku tidak passionate lagi dengan matematika adalah .... Trigonometri. Entah kenapa materi ini sulit aja untuk dimengerti. Terlebih pada saat aku belajar, pada saat yang sama aku harus paham tanpa dikenalkan dulu gunanya.
Sampai sekarang, aku masih belum bisa mengerjakan soal trigonometri dengan berbagai jenis dan kesulitannya. Sialnya, dalam UTBK yang lalu, di ujian kemampuan kuantitatif ada 7 soal atau lebih tentang trigonometri dari 20 an soal. Otomatis langsung aku lewati saja soal-soal yang berbau trigonometri.
Untuk merekap tulisan pendek ini, "i love to study math until this trigonometri lesson".
Cepiring, 1 Juli 2023.
Aslinya selesai ditulis jam 6 lebih dikit.